Universitas YARSI Gelar Seminar Nasional Sharia Economic Outlook 2020

  • Whatsapp

Jakarta – Himpunan Mahasiswa Prodi Magister Manajemen bekerjasama dengan Prodi Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas YARSI menggelar seminar Sharia Economic Outlook 2020 di Universitas YARSI, Jakarta, Sabtu (28/12/2019).

Acara ini diikuti oleh para Mahasiswa Pascasarjana Universitas YARSI, Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Trisakti dan para pegiat ekonomi syariah di Indonesia.

Muat Lebih

Ketua Senat Mahasiswa Pascasarjana Universitas YARSI Donny Dwiky Desmawan, SE mengatakan, seminar Sharia Economic Outlook 2020 ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan ekonomi syariah di masa depan. Selain itu, sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, Indonesia juga memiliki kekuatan untuk membangun ekonomi syariah dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah.

“Di negara-negara maju saat ini sudah mengembangkan ekonomi syariah di berbagai sektor bisnis. Kenapa di Indonesia ekonomi Islam masih sedikit, acara ini diharapkan dapat meningkatkan perkembangan ekonomi syariah di atas 50 persen,” ucap Donny di lokasi acara.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof. Dr. Nurul Huda, SE., MM., MSI, Anwar Sahal SE, dan Wiku Suryo Mukti.

Di hadapan ratusan peserta seminar, Wiku Suryo Mukti memaparkan tentang potensi keuangan syariah dunia. Menurutnya, potensi keuangan syariah dunia akan tumbuh besar mengingat jumlah muslim dunia menjadi mayoritas.

“Keuangan syariah akan semakin tumbuh, market dari keuangan syariah dunia sangat besar karena seperempat jumlah penduduk dunia adalah muslim,” terang pria yang sedang menyelesaikan program S3 di London Business School, Inggris.

Potensi keuangan syariah menurut Wiku juga berkembang pesat di fintech (finansial technologi) yang saat ini meningkat drastis baik di kancah global maupun domestik. Sehingga, ini menjadi peluang besar bagi industri keuangan syariah.

Selain itu, Wiku juga memaparkan sejumlah potensi industri syariah di Indonesia yang memiliki prospek bagus seperti industri pariwisata, makanan, pendidikan maupun perbankkan.

“Bagaimana dengan keuangan syariah? tahun 2019 untuk membuat rekening sudah memakai digital, asuransi juga sama. Industri syariah siap tidak siap, mau tidak mau harus menghadapi ini,” terangnya.

Sementara Itu, Anwar Sahal dalam kesempatan yang sama menyoroti tentang peluang dan tantangan pasar modal syariah. Pasar modal syariah harus sesuai dengan instrumen yang digunakan berdasarkan pada prinsip syariah dan mekanisme yang digunakan juga tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

“Kebutuhan industri dan masyarakat Indonesia ketika investasi adalah ingin mendapatkan nilai lebih, bukan hanya keuntungan tapi ketenangan dalam investasi. Ada faktor religiusulitas yang bagus di masyarakat sehingga menuntut kebijakan di pasar modal,”terangnya.

Ia menceritakan perjalanan investasi syariah di Indonesia yang sudah ada sejak tahun 1997 yaitu dengan adanya reksa dana syariah. Selain itu ada juga Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang meluncurkan Jakarta Islamic Indek yang menjadi salah satu acuan pelaku pasar untuk mengelola efek-efek yang lebih bagus lagi. Tahun 2007 Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya menggabungkan usaha (merjer) menjadi Bursa Efek Indonesia.

“Instrumen investasi pada dasarnya didalamnya mengandung resiko juga, seperti likuiditas, gonjang-ganjing ekonomi dan sebagainya. Untuk itu, para pelaku yang menawarkan investasi harus menghindari perbuatan tadlis (penipuan/ ketidakjujuran dalam berdagang), sehingga jika suatu saat nanti terjadi liquiditas dan lainnya para investor tidak kaget,” ungkapnya.

Guru besar Universitas YARSI Prof. Dr. Nurul Huda, SE., MM.,MSI menyoroti aspek perkembangan ekonomi dan keuangan Islam yang meliputi ekonomi global dan domestik serta gejolak ekonomi dan politik tahun 2019.

Gambaran ekonomi tahun 2019 menurutnya akan berdampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi di tahun 2020.

“Dengan masuknya Kiyai Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden diharapkan ada perubahan yang signifikan, baik terkait dalam kelembagaan maupun kebijakan. Dorongan pemerintah sangat penting agar bisa lebih signifikan. Tahun 2020 merupakan sebuah momen karena industri-industri yang bergerak di bidang Islamic sosial payment, seperti zakat, wakaf menjadi sebuah instrumen unggulan saat ini. banyak produk-produk yang disinergikan dengan kedua produk tadi seperti zakat saham, wakaf saham dan lainnya,”terang Prof. Dr. Nurul Huda penulis 17 buku ekonomi dan keuangan syariah.

Ia melanjutkan bahwa masalah yang sangat klasik adalah persoalan literasi di masyarakat yang masih kurang dari angka sembilan persen.

“Artinya masyarakat yang tahu soal ekonomi syariah, industri keuangan syariah kurang dari 9 persen. bagaimana dia menggunakan produk syariah kalau dia sendiri belum tahu. Oleh karena itu, dua instrumen yang sangat penting untuk mengembangkan ekonomi syariah adalah peran pemerintah dan literasi terhadap masyarakat,” jelasnya Komisioner Badan Wakaf Indonesia.

Seminar Sharia Economic Outlook 2020 ini didukung oleh Universitas YARSI, Universitas Indonesia, Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Indonesia Banking School (IBN) dan Champ Resto Indonesia.

Pos terkait