Kholida Rohma dan Tazkiya Salsabiila Membuat Kemasan Pengganti Styrofoam

  • Whatsapp

Jakarta – Kholida Rohma dan Tazkiya Salsabiila, dua siswi asal Madrasah Aliyah Negeri 2 Kudus berhasil membuat kemasan atau wadah makanan pengganti styrofoam yaitu biofoam. Hal ini mereka tunjukkan dalam ajang kompetisi karya ilmiah di sekolah.

Melakukan penelitian selama dua bulan, Kholida Rohma dan Tazkiya Salsabiila mengaku ide dalam pembuatan biofoam ini dimulai saat mereka tahu styrofoam yang jadi kemasan jajanan atau makanan ternyata dapat membahayakan lingkungan karena tidak dapat terdegradasi. Bahkan, meski dibakar pun, zat kimia styrofoam akan merusak ozon.

Muat Lebih

“Styrofoam itu memiliki dampak negatif karena bersifat karsinogen(zat pemicu kanker), penghasil limbah yang mencemari lingkungan, dan tidak bisa terdegradasi oleh alam. Sehingga perlu adanya inovasi tentang kemasan makanan ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan yaitu biofoam. Biofoam ini ramah lingkungan, mampu terdegradasi oleh alam dalam kurun waktu 14 hari sehingga tidak lagi mencemari lingkungan karena bisa terurai,” papar Kholida kepada media.

Dalam penelitian ilmiah yang berjudul Pemanfaatan Pati Tapioka dan Selulosa Bambu Betung (Dendrocalamus asper) sebagai Bahan Pembuatan Biofoam Ramah Lingkungan menjadi salah satu finalis yang lolos di Lomba Karya Ilmiah Remaja 2019. Mereka bersaing dengan 49 penelitian lainnya.

Kholida mengungkapkan, pada penelitian tersebut bahan yang digunakan untuk membuat biofoam yaitu bambu betung, hal itu karena bambu Betung banyak terdapat di lingkungan mereka di Kudus. Bambu tersebut umum digunakan sebagai bahan bangunan.

Dalam proses pembuatannya, bahan bambu diproses dengan menggunakan mesin serut hingga membentuk piring. Proses pembuatan piring biofoam kemudian dilakukan di Laboratorium Polimer LIPI. Selama lima minggu, dengan pendampingan peneliti LIPI dr Sukma Surya K, mereka mencari komposisi terbaik. Dari empat komposisi, mereka mendapatkan biofoam terbaik memiliki komponen rasio pati dan selulosa 2:1.

Biofoam dengan rasio pati-selulosa 2:1 itu dapat terdegradasi sempurna. Sementara itu, jika biofoam dengan perbandingan pati-selulosa sama atau selulosa lebih besar, belum terdegradasi sempurna.

Biofoam 2:1 itu juga sudah menjalani uji ketahanan air. Saat piring biofoam diisi air hingga setengah volumenya, piring itu menjadi lembek. “Iya, tapi memang waktu itu hanya dicoba sebentar, mungkin hanya semenit jadi kalau lebih lama diberi air belum tahu apa kuat,” jelasnya.

Menurut Kholida, biofoam yang mereka buat masih perlu banyak penyempurnaan. Ketahanan terhadap air dapat ditingkatkan dengan penggunaan biofilm dari rumput laut atau bahan yang mengandung kolagen lainnya. Ia pun sepakat jika perlu pula pengujian dengan memanfaatkan kulit singkong sebab pemanfaatan daging singkong untuk biofoam dalam skala besar dapat bersaing dengan kebutuhan makanan manusia.

Baik Kholida maupun Tazkiya, mereka berharap jika penelitian itu dapat berlanjut. “Mudah-mudahan juga nantinya bisa diterapkan supaya enggak banyak lagi pakai stirofoam, enggak banyak limbah,” ujar Kholida.

Kholida merupakan putri pertama dari Ali Fahrudin pegawai Kementerian Agama sebagai Kasubag TU Sekjen Kemenag RI. Selaku orang tua, Ali memotivasi dan mendukung putrinya untuk mengejar cita-cita.

“Kami tetap akan memotivasi terus menerus supaya kemudian madrasah juga mempunyai nilai kompetisi yang hebat. Karena bagaimanapun Madrasah kan walaupun berbasis sekolah juga mempunyai basis pendidikan agama. Maka kalau bahasa dulu berkeinginan mempunyai intermgrasi sains dan agama kalau madrasah sudah terbiasa,” ucapnya.

Pos terkait