Seputar Jakarta

Peradaban Bangsa Ditentukan oleh Media

  • Reporter:
  • Rabu, 25 April 2018 | 02:00
  • / 9 Sya'ban 1439
Peradaban Bangsa Ditentukan oleh Media

Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi) mengatakan apabila sejarah mencatat bahwa yang membangun sikap optimis bahwa Indonesia pasti merdeka salah satunya melalui media. Dikisahkan, menurutnya, salah satunya adalah majalah Indonesia Merdeka yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) tahun 1924. Lebih lanut diceritakan, saat itu ketuanya adalah Nazir Datuk Pamoetjak, kelahiran Solok, Sumatera Barat, 10 April 1987. Hariqo menambahkan, ini sesuai seperti yang dikatakan Harold Adam Innis bahwa peradaban dan sejarah ditentukan oleh media yang menonjol pada masanya.

“Ia perintis kemerdekaan Indonesia. Tahun 1924, ia menjadi ketua Perhimpunan Indonesia. Ia dan teman-temannya mengubah nama majalah Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka. Putrinya masih hidup hingga sekarang, Lidia Djunita Pamoentjak,” kata Hariqo dalam diskusi “Indonesia Optimis; Peran Konkret Media Membangun Optimisme Bangsa Melalui Pemberitaan” yang diadakan Kaukus Muda Indonesia di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih No 32, Gambir, Jakarta Pusat, pada Senin Sore, 23 April 2018, mulai pukul 14.00 – 17.00 WIB.

Ditegaskan Hariqo, majalah Indonesia Merdeka telah membangkitkan optimisme bahwa Indonesia akan merdeka, selain itu juga mengkritik Belanda. Jadi media itu, kata Hariqo, selain membangun sikap optimis, juga sebagai kontrol terhadap penguasa, ini tak bisa dipisahkan dan sudah dicontohkan para pendiri bangsa kita. Idealnya media membangun masyarakat yang optimis dan waspada.

“Optimis saja tidak cukup, kita juga perlu waspada,” terang Hariqo

Media membangun sikap optimis, dalam kesempatan tersebut juga diungkapkan pengamat media Agus Sudibyo. Diceritakan, saat bencana tsunami di Jepang, seperti ada pemahaman bersama insan pers, agar foto dan narasi yang dikeluarkan oleh media tidak banyak memuat kesedihan dan reruntuhan. Hal ini, katanya lagi, untuk membangkitkan optimisme dan menjaga kepentingan nasional Jepang. Sehingga, ditegaskan Agus, dengan media mempunyai kebebasan, namun sebaiknya mempertimbangkan kepentingan nasional.

“Media juga jangan menjadi pengikut media sosial,” tambah Agus Sudibyo.

Sementara itu, terkait dunia pers Indonesia, Ketua Umum Ikatan Wartawan Online  Jodhi Yudono memaparkan bahwa dirinya tetap optimis bisa membawa Indonesia lebih baik. Dijelaskan, masih banyak wartawan-wartawan idealis dengan kapasitas mumpuni. Menurut Jodhi, memang ada keresahan bahwa media semakin dipengaruhi oleh kepentingan bisnis dan politik.

“Sekarang masyarakat sudah punya media sosial juga, mereka juga menilai media. Karena itu di Ikatan Wartawan Online Indonesia, kami terus berbenah meningkatkan kompetensi wartawan. Saya memanfaatkan kunjungan ke daerah dengan banyak diskusi non formal,” kata Jodhi Yudono.

Prof. Dr. Henry Subiakto, Staf Ahli Menkominfo RI yang juga Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga dalam presentasinya menjelaskan, optimisme itu keyakinan dari segi yang baik dan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal. Lebih lanjut diungkapkan, orang bersikap, beropini hingga berperilaku, ditentukan oleh the pictures in our heads. Dikataan, the pictures in our heads dibangun oleh pengalaman pribadi dan informasi, termasuk dari media. Sehingga, ditegaskan, Kominfo memberikan ruang aduan bagi masyarakat bila mengetahui ada konten yang melanggar.

“Jika ada konten yang melanggar, masyarakat dapat menghubungi kami langsung atau kirim email, silahkan cek di website: aduankonten@mail.kominfo.go.id  dan http://trustpositif.kominfo.go.id”, jelas Henry Subiakto.

Dalam diskusi yang diadakan oleh Kaukus Muda Indonesia di Gedung Dewan Pers ini, terlihat antusiasme dari ratusan peserta. Hadir sebagai narasumber: 1) Auri Jaya, Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia, 2) Prof. Dr. Henry Subiakto, Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Media Massa Kemenkominfo RI, 3) Jodhi Yudono, Ketua Umum Ikatan Wartawan Online, 4) Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, dan 6) Agus Sudibyo, Pengamat Media.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional