Seputar Jakarta

Kemenperin Tumbuhkan Inovasi Teknologi Pendukung Industri 4.0

  • Reporter:
  • Senin, 23 April 2018 | 13:20
  • / 7 Sya'ban 1439
Kemenperin Tumbuhkan Inovasi Teknologi Pendukung Industri 4.0
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Kerja BPPI Kemenperin Tahun 2018 di Bogor, 23 April 2018.

Kementerian Perindustrian berupaya mendorong peningkatan daya saing Indonesia terutama melalui peluang dari implementasi Industri 4.0. Langkah strategis yang perlu dijalankan, antara lain adalah peningkatan kualitas dan intensitas kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) di berbagai lini yang dapat menumbuhkan inovasi dalam pengembangan sektor manufaktur nasional.

“Jadi, upaya yang harus dibangun adalah penguatan inovasi bagi sektor industri. Langkah ini perlu kolaborasi dengan seluruh stakeholder,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara pada Rapat Kerja BPPI Kemenperin Tahun 2018 di Bogor, Senin (23/4).

Ngakan berharap, melalui rapat kerja ini, terciptanya keselarasan dalam arah pengembangan industri khususnya di bidang inovasi teknologi yang akan berperan dalam peningkatan produktivitas industri nasional. “Menurut para cendekia, istilahnya adalah technology will always win,” ungkapnya.

Salah satu agenda pada rapat kerja tersebut, dilaksanakan forum diskusi dengan mengundang perwakilan dari pihak kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, perusahaan dan asosiasi industri, serta akademisi. “Kami juga berharap, di kegiatan ini akan lahir ide-ide out of the box ataupun pemikiran dan saran-saran yang membangun terkait penerapan teknologi Industri 4.0, sehingga dapat mendukung program prioritas dalam memacu pertumbuhan industri nasional,” papar Ngakan.

Sektor industri masih menjadi penyumbang utama Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu sebesar 20,16 persen. Selain itu, pertumbuhan ekspor industri pengolahan tahun 2017 meningkat 13,14 persen dibandingkan tahun 2016. Sedangkan dilihat dari kontribusinya terhadap total ekspor sepanjang tahun 2017, ekspor nonmigas produk industri pengolahan merupakan yang terbesar mencapai 74,10 persen.

Sepanjang 2017 pula, sektor industri mampu menyerap tenaga kerja sebayak 1,5 juta orang sehingga total tenaga kerja di sektor industri hingga saat ini mencapai 17 juta orang atau 14,05 persen dari jumlah angkatan kerja di Indonesia. “Capaian tersebut, menunjukkan bahwa sektor industri masih menjadi penyokong utama perekonomian nasional,” tegas Ngakan.

Kinerja positif dari sektor industri juga ikut mendorong peningatan daya saing Indonesia. Berdasarkan laporan Global Competitiveness Index tahun 2017-2018, daya saing Indonesia naik 5 peringkat ke posisi 36 dari 137 negara, setelah tahun sebelumnya berada di posisi 41. Indonesia dinilai telah memperbaiki kinerja di semua pilar yang berjumlah 12, mulai dari infrastruktur hingga inovasi.

Hasil laporan itu juga menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-31 dalam inovasi dan ke-32 untuk kecanggihan bisnis. Bahkan, Indonesia dinilai sebagai salah satu inovator teratas di antara negara berkembang, bersama dengan China dan India.

“Namun demikian, bagi BPPI, tantangan terbesar saat ini terdapat pada pilar ke sembilan yaitu technological readiness. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja keras bersama seluruh stakeholder untuk meningkatkan penguasaan teknologi khususnya dalam mendukung penerapan Industri 4.0,” ungkapnya.

Peran lembaga litbang

Ngakan menjelaskan, sektor industri secara global saat ini sudah memasuki pada tahap revolusi industri keempat, di mana sistem dalam proses produksi dan aspek manajemennya ditopang oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta kegiatan litbang yang menghasilkan inovasi. “Memasuki era Industri 4.0, beberapa negara maju seperti Jerman, Perancis, dan China telah menetapkan strategi untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada baik di domestik maupun dunia,” jelasnya.

Pada 4 April 2018, menjadi momentum bersejarah bagi Indonesia karena Presiden Joko Widodo secara resmi meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 yang diinisiasi oleh Kemenperin. Selain menetapkan sebagai gerakan nasional dan strategi Indonesia mempercepat implementasi untuk memasuki Industri 4.0, roadmap terintegrasi tersebut juga menjadi landasan guna mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional di masa mendatang.

“Bapak Presiden menunjuk Kemenperin sebagai leading sector dalam penerapan Industri 4.0,” ungkap Ngakan. Melalui Making Indonesia 4.0, aspirasi besar yang ditargetkan adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 besar negara yang memiliki ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030, dengan mengembalikan kontribusi net export industri ke angka 10 persen dan peningkatan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat dibandingkan biaya tenaga kerja.

“Maka itu, kami sangat berharap agar kementerian dan lembaga lain, pemerintah daerah, akademisi serta pelaku industri mendukung penuh pelaksanaan roadmap tersebut sesuai tugas masing-masing demi kemajuan bangsa,” papar Ngakan.

Beberapa inisiatif yang perlu dilakukan berdasarkan Making Indonesia 4.0, antara lain adalah membangun jejaring inovasi, penyelarasan peta jalan dan program inovasi nasional di seluruh kementerian dan lembaga agar dapat saling mengisi dan memperkuat satu sama lainnya, serta membuat cetak biru pusat inovasi nasional sebagai sarana knowledge pool dan knowledge sharing antar pelaku dalam ekosistem inovasi.

“Kemudian, memberikan fasilitas untuk mendukung tumbuhnya budaya dan ekosistem inovasi, sehingga pada akhirnya diharapkan dapat terbangun Integrated Industry Dashboard and Integrated Ecosystem,” lanjut Ngakan.

Dalam rangka membangun kemampuan inovasi, peran lembaga litbang yang ada di seluruh Indonesia termasuk di bawah BPPI Kemenperin dapat menjadi penyokong utama terbentuknya ekosistem inovasi yang melahirkan riset-riset berkualitas dan memberi manfaat bagi industri.

“Guna menghasilkan inovasi yang sesuai kebutuhan di dunia industri, balai litbang Kemenperin terus berupaya menggandeng sektor swasta untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan riset atau alih teknologi yang mendukung kemajuan sektor manufaktur nasional,” tuturnya.

Hingga saat ini, jumlah balai litbang di bawah BPPI Kemenperin sebanyak 11 Balai Besar dan 11 Balai  Riset Standardisasi (Baristand) Industri. Balai-balai litbang industri tersebut telah menghasilkan 98 paten.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional