Seputar Jakarta

Seminar di Trisakti, IICTF Dorong Wisata Muslim Masuk Kurikulum Kampus

  • Reporter:
  • Kamis, 5 April 2018 | 16:44
  • / 19 Rajab 1439
Seminar di Trisakti, IICTF Dorong Wisata Muslim Masuk Kurikulum Kampus

Industri halal atau Wisata Muslim saat ini sedang berkembang pesat di dunia. Bisnis ini bukan hanya dikembangkan oleh negara-negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, namun juga negara-negara yang sebagian penduduknya non-Muslim.

Pegiat Wisata Muslim yang juga Pendiri Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IICTF), Priyadi Abadi mengaku sangat prihatin travelling Wisata Muslim belum terakomodir secara maksimal. Oleh karena itu, pihaknya akan terus berjuang dan menggaungkan akan potensi Wisata Muslim, salah satu caranya adalah dengan memasukkan mata kuliah Haji, Umrah dan Wisata Muslim ke dalam kurikulum dunia pendidikan atau perguruan tinggi.

“Jadi sebetulnya ini keprihatinan saya, masyarakat kita yang mau travelling tapi tidak terakomodir untuk makanan halal dan sholat,” kata Priyadi kepada Majalah Rindu Kabah di Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Potensi Wisata Muslim harus disikapi dengan bijak. Kalau umat Islam atau biro-biro travel tidak ambil bagian, nantinya pangsa pasar atau market ini akan diambil alih dikelola oleh travel umum. Tentu ironis sekali bila travel Muslim tidak bias mengakomodir.

Hari ini, Chairman IICTF Priyadi Abadi mengisi seminar atau presentasi di hadapan ratusan mahasiswa dan akademisi Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti. Ia mengupas akan pengetahuan dasar-dasar Wisata Muslim.

“Kenapa tidak dimulai dari semenjak mereka ada di bangku kuliah, nah berangkat dari situ saya mencoba bicara nih ke temen-temen yang masih aktif mengajar termasuk direktur kita rektor kita untuk memasukkan mata kuliah Wisata Muslim, Umrah dan Haji dalam kampus kita yaitu Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti,” tegas Priyadi.

Priyadi Abadi mengatakan, Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim semestinya harus lebih maju dibanding dengan negara lain, jangan sampai malah justru tertinggal. Bahkan, Indonesia sangat berpotensi menjadi kiblat wisata halal dunia.

“Kita baru mencoba menyamakan persepsi kita soal Wisata Muslim, misi kita gitu ya tentang peluangnya tetang apa prospeknya opportunitynya ini gitu kan ke depan tantangan-tantangannya apa termasuk intern-intern seperti apa masyarakat kita perlu di edukasi melalui dari akademisi,” terangnya.

Bukan tanpa sebab Priyadi selalu menggebu-gebu bila bicara Wisata Muslim. Latar belakangnya sebenarnya sederhana yaitu kita mayoritas muslim mau jalan-jalan tapi kita bingung dengan makanan halal, tempat sholat dan sebagainya.

“Ya itulah itu kan sebetulnya adalah basic sekali ya gitu ya tentang kebutuhan muslim traveller ya nah itu yang membuat saya prihatin maka daripada itu saya selalu menggebu-gebu kalau bicara wisata muslim karena apa karena persentasenya masih kecil sekali coba liat di pameran umrah haji yang melakukan wisata muslim tuh berapa persen sih enggak ada 20 % dari umrah dan hajinya kan sebenarnya itu kan memprihatinkan sekali lagi saya sampaikan jangan salahkan masyarakat kita memilih travel umum jangan salahkan mereka karena travel muslim tidak mengakomodir destinasinya,” tandasnya.

Selama ini, travel Muslim hanya fokus untuk menggarap paket haji dan umrah. Kalau pun ada yang menggarap wisata Muslim, menurutnya, biasanya hanya sebatas wisata di negara-negara Timur Tengah. Misalnya, paket umrah yang juga menyertakan tour ke Turki.

Untuk mendorong pengembangan travel Muslim itulah, Priyadi mengatakan, IITCF hadir sebagai pusat pelatihan agar para travel Muslim bisa membuat paket-paket wisata Muslim. Sejak IICTF didirikan, forum ini telah aktif melakukan pelatihan di dalam maupun luar negeri. Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM travel Muslim.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional