Seputar Jakarta

Tenaga Ahli Las Besutan Balai Besar Kemenperin Diakui Internasional

  • Reporter:
  • Senin, 13 November 2017 | 00:02
  • / 23 Safar 1439
Tenaga Ahli Las Besutan Balai Besar Kemenperin Diakui Internasional

Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) Bandung, salah satu lembaga penelitian dan pengembangan Kementerian Perindustrian aktif melakukan pendidikan dan pelatihan vokasi dalam bidang pengelasan. Upaya ini untuk menjawab tantangan dari dunia industri yang membutuhkan tenaga kerja terampil dan profesional.

“Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan oleh industri manufaktur saat ini, menuntut para tenaga kerja kita untuk menguasai kegiatan pemanufakturan yang dapat mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi tinggi, termasuk di bidang pengelasan,” kata Kepala B4T Budi Susanto di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (11/11).

Berdasarkan data Asosiasi Pengelasan Indonesia – Indonesian Welding Society (API-IWS), pembangunan industri manufaktur nasional masih memerlukan sebanyak 5000 tenaga pengelasan per tahun. Tingkat kualifikasi yang dibutuhkan, antara lain Welding Coordinator (Welding Engineer, Welding Technologist, Welding Specialist, Welding Practitioner), Welder, Welding Inspector (comprehensive, standard, basic), dan Nondestructive Testing (NDT) personnel.

“Untuk jabatan Welding Inspector dan NDT personnel, B4T telah memberikan pelatihan sejak tahun 1976 dan untuk kualifikasi Welding Coordinator sejak 1994,” tutur Budi. Hingga saat ini, melalui pendidikan dan pelatihan vokasi, B4T telah menghasilkan lulusan dengan kualifikasi Welding Coordinator (Welding Engineer, Welding Technologist, Welding Specialist, Welding Practitioner) sebanyak 680 orang, Welding Inspector (Comprehensive level, Standard level, Basic level) sebanyak 2800 orang, dan NDT (Level III, Level II, Level I) sebanyak 1850 orang.

Budi meyatakan, B4T merupakan salah satu lembaga pendidikan dan pelatihan pengelasan yang telah diakui dan dipercaya sebagai Approved Training Body (ATB) dalam skema International Institute of Welding (IIW) dengan Sertifikat Akreditasi No. ID 001 melalui Indonesian Welding Society – Authorised National Body (IWS-ANB).

“Maka, sertifikat yang diberikan kepada peserta diakui secara internasional,“ ungkapnya. Para lulusan tenaga ahli las dari B4T telah banyak diterima kerja di negara-negara Timur Tengah, Afrika Selatan, Eropa, Amerika Serikat, Malaysia, Brunei, dan Jepang.

B4T juga sebagai lembaga Tempat Uji Kompetensi (TUK) dalam skema Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dengan Sertifikat Akreditasi No. 029-ID melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Las (LSP-LAS) dengan mengimplementasikan dokumen Pedoman BNSP 206 Persyaratan Umum Tempat Uji Kompetensi serta Persyaratan Tambahan dari LSP-LAS;

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara memberikan apresiasi terhadap kinerja B4T dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi yang professional dengan kualifikasi diakui tingkat nasional sampai internasional.”Kami akan selalu meningkatkan kemampuan dari segi kualitas maupun kuantitas untuk memenuhi kebutuhan pengembangan industri nasional dan kemampuan dalam persaingan professional global,” tuturnya.

Menurut Ngakan, salah satu kunci strategis untuk mendukung percepatan pembangunan industri Indonesia saat ini adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan vokasi yang mampu menjawab tantangan nasional dan global. “Pendidikan dan pelatihan vokasi yang menitikberatkan pada kemampuan keterampilan profesional sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut,” tegasnya.

Abu tulang sintetis

Di tempat terpisah, Balai Besar Keramik (BBK) Bandung telah melakukan penelitian untuk mencari bahan baku alternatif pembuatan keramik, yaitu penggunaan abu tulang sintetis. Jenis keramik abu tulang tengah diminati konsumen karena memiliki keunggulan dibanding produk sejenisnya, seperti warna putih tulang yang tembus bayang dengan permukaan licin dan mengkilat.

”Namun saat ini keramik abu tulang masih menjadi masalah pencemaran lingkungan dengan gas hasil bakar tulang yang sangat berbau. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dicari bahan alternatif utama lainnya, yaitu penggunaan abu tulang sintetis yang kualitasnya tidak kalah dengan abu tulang asli,” kata Kepala BBK Bandung, Supomo.

Keramik abu tulang terbuat dari bahan utama yang bukan berasal dari mineral alami, melainkan abu tulang yang berasal dari tulang hewan seperti sapi atau kerbau yang dibakar. Menurut Supomo, pembuatan keramik ini harus selektif dalam pemilihan jenis bahan bakunya. ”Apalagi, harga bahan abu tulang impor cukup tinggi,” ujarnya.

Untuk itu, dengan melihat peluang bahan baku tambang di Indonesia yang berlimpah, BBK Bandung telah menemukan bahan baku dengan karakteristik yang mirip dengan abu tulang tersebut.  ”Melalui pemilihan bahan yang tepat, komposisi yang sesuai serta teknik pembuatan yang terkendali untuk memperoleh sifat keplastisan yang cukup berarti serta pengaturan pembakaran yang tepat akan diperoleh kualitas bone-ash yang baik,” paparnya.

Kepala BBK meyakini, pertumbuhan industri keramik nasional masih cukup prospektif seiring dengan pertumbuhan pasar domestik yang terus meningkat. Apalagi, program pemerintah yang salah satunya berfokus pada perumahan rakyat diharapkan dapat menggenjot konsumsi keramik nasional.

“Industri keramik memiliki keunggulan dan potensi yang cukup besar karena memiliki ketersediaan bahan baku yang melimpah dengan deposit tambang bahan baku keramik yang cukup besar dan tersebar di berbagai daerah di wilayah Indonesia,” tutur Supomo.

Kemenperin mencatat, saat ini terdapat 58 perusahaan ubin keramik dengan kapasitas terpasang lebih dari 537 juta m² per tahun, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 62 ribu orang. Volume tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil keramik ke-6 setelah China, India, Brazil, Spanyol dan Iran.

Sedangkan untuk kategori industri tableware, tercatat ada 12 perusahaan dengan kapasitas lebih dari 274 juta buah per tahun dengan melibatkan tenaga kerja sebanyak 17 ribu orang. Selain itu, Indonesia juga memiliki enam perusahaan pada industri saniter yang berproduksi mencapai 5,5 juta buah per tahun dengan didukung tenaga kerja sebanyak 9.174 orang.

  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional