Seputar Jakarta

Santripreneur Wujudkan Ekonomi Berbasis Syariah

  • Reporter:
  • Minggu, 12 November 2017 | 23:57
  • / 22 Safar 1439
Santripreneur Wujudkan Ekonomi Berbasis Syariah

Kementerian Perindustrian berkomitmen terus melaksanakan proyek percontohan dalam program Santripreneur, termasuk untuk mewujudkan kemandirian industri nasional yang bebasis ekonomi syariah. Santripreneur adalah program pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) di lingkungan pondok pesantren.

“Dalam kurun waktu tahun 2013-2015, Direktorat Jenderal IKM telah membina beberapa pondok pesantren dengan pelatihan tematik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi unit industri yang ada di pondok pesantren,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Surabaya, Sabtu (11/11).

Berdasarkan data Kementerian Agama, pada tahun 2014, pondok pesantren yang ada di Indonesia sebanyak 27.290 lembaga dengan jumlah santri mencapai 3,65 juta orang. Ini menjadi potensi bagi penumbuhan wirausaha baru dan sektor IKM di Tanah Air.

“Dalam implementasinya, kami memiliki dua model untuk mencapai sasaran tersebut. Pertama, Santri Berindustri, dan kedua yaitu Pesantren Berkreasi,” jelas Gati. Model Santri Berindustri fokus pada pengembangan unit industri yang telah ada dan sumber daya manusia di lingkungan pondok pesantren yang terdiri dari santri dan alumni santri.

Sedangkan, Santri Berkreasi merupakan kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri maupun alumni yang terpilih dari beberapa pondok pesantren untuk menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi dan multimedia sesuai standar industri saat ini.

“Program pilot project Santripreneur yang telah berjalan, misalnya di Pondok Pesantren Sunan Drajat, yaitu program bimbingan teknis pengolahan ikan dan bantuan peralatan, serta bimbingan teknis pembuatan alas kaki,” papar Gati. Program selanjutnya yang akan dilakukan adalah bimbingan teknis pembuatan lampu LED dan revitalisasi industri garam.

Guna menyukseskan program Santripreneur ini, Gati menyampaikan, Bank Indonesia (BI) turut andil dalam memfasilitasi inkubator bisnis syariah mengenai keuangan mikro syariah dan nonkeuangan seperti agrobisnis serta perdagangan dan jasa. “Inkubator bisnis syariah bertujuan untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui pemberdayaan ekonomi pesantren,” tuturnya.

Beberapa program yang diberikan, antara lain pelatihan motivasi usaha dan penyusunan bisnis plan, Pelatihan rapid rural appraisal (RRA), penyusunan feasibility study (FS), pelatihan strategi marketing, serta pelatihan hukum bisnis, fiqih mualah dan akad perbankan syariah.

Bekerja sama dengan BI, Kemenperin ikut berpartisipasi dalam kegiatan Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) 2017 di Surabaya, dengan mengisi delapan stan yang terdiri dari peserta IKM komoditas pangan, Klinik Kemasan dan Merek, serta stan Hak Kekayaan Intelektual. Dalam acara ini, para peserta Santripreneur diberikan fasilitasi uji coba pasar (promosi) oleh BI, termasuk Pondok Pesantren Sunan Drajat.

ISEF merupakan salah satu acara ekonomi dan keuangan syariah terbesar dan terdepan di Indonesia dengan mengintegrasikan pengembangan sektor keuangan dengan perekonomian sektor riil. ISEF turut mengundang 80 Pimpinan dari perwakilan Pondok Pesantren besar seluruh pelosok Indonesia dan para penggiat ekonomi syariah.

Industri kriya dan fesyen

Di lokasi berbeda, pengembangan IKM, khususnya di bidang ekonomi kreatif, dilakukan Kementerian Perindustrian melalui Bali Creative Industri Center (BCIC). Di bawah naungan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM), BCIC sejak tahun 2015 telah berkembang menjadi tempat berkumpulnya wirausaha dan incubator kreatif khususnya di bidang fesyen, kriya dan animasi.

“Pertumbuhan industri kriya dan fesyen sebagai subsektor industri kreatif memiliki kontribusi yang besar dan terus meningkat terhadap perekonomian nasional,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Bali, Jumat (10/11).

Kemenperin mencatat, pada tahun 2016, nilai ekspor kriya mencapai USD243 juta, sementara nilai ekspor fesyen sebesar USD11,7 miliar. Sementara itu, berdasarkan laporan Global Competitiveness Report tahun 2017-2018 dari World Economic Forum, Indonesia terus mengalami peningkatan daya saing produk kriya dan fesyen dari posisi ke-41 menjadi peringkat ke36 dari 138 negara.

Untuk memperkuat kontribusi industri kriya dan fesyen nasional, menurut Gati, pemerintah bertekad mendorong terciptanya wirausaha baru dan juga meningkatkan nilai tambah produk lokal agar mampu menembus pasar mancanegara. “Perlu peran generasi muda dalam berinovasi, penguasaan teknologi terkini, serta memahami tentang isu global terkini terkait teknologi proses industri yang lebih efektif, efisien, dan eco friendly product,” paparnya.

Untuk itu, Kemenperin memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Indonesian Fashion and Craft Award (IFCA), sebagai ajang pencarian bakat di bidang kriya dan fesyen serta sebagai aktualisasi karya, pendorong daya saing dan apresiasi untuk talenta muda Indonesia. “IFCA merupakan kegiatan rutin tahunan BCIC yang melibatkan banyak insan muda kreatif kriya dan fesyen Indonesia,” jelas Gati.

IFCA 2017 mengangkat tema “National Treasure” untuk memberikan inspirasi kekayaan seni budaya Nusantara masa lalu menjadi desain kontemporer Indonesia masa depan yang inovatif, kebaruan dan komersial. Tahun ini, jumlah karya yang masuk sebanyak 635 karya dan telah telah dipilih 6 karya sebagai nominator atau finalis dan 19 karya yang layak diberi predikat honorable mentions.

Keenam finalis tersebut, yaitu Alyssa Namira Bachtiar (produk fesyen Archaic Peafowl) , Amelinda Alyssa Anette (produk fesyen Senyawa), Farhannurmaris Karel (produk Kriya Namo Rattan Amplifier), Firman Mutaqin (produk fesyen Renzo), Muchammad Chanif Syamsuddin (produk kriya MeKids), dan Rizky Mohamad Faesal (poduk kriya Tung Bluetooth Speaker).

  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional