Seputar Jakarta

Kemenperin-JICA Bidik Industri Potensial Masa Depan

  • Reporter:
  • Senin, 23 Oktober 2017 | 05:00
  • / 2 Safar 1439
Kemenperin-JICA Bidik Industri Potensial Masa Depan
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi para Direktur Jenderal Kementerian Perindustrian dan Duta Besar RI untuk Jepang Arifin Tasrif (depan, ketiga kiri) berfoto bersama dengan Executive Vice President JETRO Yuri Sato (depan, ketiga kanan) beserta jajaran seusai acara Indonesia Investment & Business Forum di Jepang 19 Oktober 2017.

Kementerian Perindustruan dan Japan International Cooperation Agency (JICA) tengah melakukan kerja sama dalam pengembangan industri potensial pada jangka menengah dan panjang, seperti sektor alat transportasi, elektronika, serta makanan dan minuman.

Langkah sinergi ini diwujudkan melalui kegiatan penelitian terhadap sejumlah manufaktur Indonesia, yang dilakukan oleh Nomura Research Institute dengan judul “Promotion for Globally Competitive Study” untuk periode April 2017-Maret 2018.

“Kami ingin mendapatan masukan terkait kolaborasi teknis di ketiga sektor industri tersebut supaya bisa naik level,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Senior Vice President of JICA Shinya Ejima serta jajaran deputi dan direktur lembaga pemerintah Jepang ini., Rabu (18/10).

Menperin menjelaskan, dalam survei yang sedang berjalan ini, pihaknya ingin mengetahui tentang alur rantai pasok industri di dalam negeri saat ini sehingga akan fokus menentukan kebijakan pengembangan untuk sektor pendukungnya. Misalnya di industri otomotif, yang membutuhkan masukan terkait riset dan teknologi terbaru.

“Kami juga akan melakukan survei ke beberapa sentra industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif seperti di Tegal dan Ceper, Jawa Tengah untuk melihat jalannya supply chain di sana,” ujarnya. Apalagi, JICA telah mendorong IKM Jepang agar berinvestasi di Indonesia supaya bisa bermitra dengan pelaku usaha lokal.

Sementara itu, di industri makanan dan minuman, Kemenperin ingin mengembangkan daya saing sektor ini di antaranya melalui pembangunan pusat inovasi, peningkatan aspek keamanan pangan, hingga pengemasan produk. “Kami akan mendukung proses pascapanen, packaging, dan membuat standar untuk ekspor. Kami rasa hal ini dapat memperluas pasar, termasuk membangun innovation center,” tuturnya.

Menperin juga mengungkapkan, komoditas lokal yang tengah diminati Jepang antara lain kakao, kopi, dan udang. Untuk meningkakan nilai tambahnya, Indonesia telah ikut serta dalam Protokol Madrid, yang diharapkan bisa mempermudah dalam mendaftarkan merek secara internasional di banyak negara. “Selain itu, sudah ada identifikasi geografis yang bisa untuk promosi produk, seperti Kopi Toraja dan Kopi Gayo. Added value ini yang terus dipromosikan oleh Kemenperin,” terangnya.

Sedangkan, di industri elektronika, Kemenperin tengah mendorong agar sektor ini dapat mendukung industri alat transportasi di masa depan, khususnya untuk kereta api, pesawat terbang, dan mobil listrik. “Untuk industri elektronika, kami akan memacu perluasan pasarnya dan bisa men-support ke sektor strategis lainnya,” ucap Airlangga.

Tiga proyek

Selain kerja sama dalam kegiatan penelitian tersebut, sebelumnya Kemenperin dan JICA telah berkolaborasi dalam tiga proyek utama. Pertama, kerja sama peningkatan kapasitas produk LED. Kerja sama ini rencananya berlangsung selama tiga tahun dalam bentuk pembangunan kapasitas dan bantuan peralatan uji.

Adapun tujuannya, mengkaji kesesuaian SNI lampu LED dengan pasar di Indonesia, meningkatkan kerja sama antara industri dalam negeri dan industri Jepang, dan memperketat pengawasan peredaran LED non-SNI.

Kedua, proyek penguatan kemampuan industri pengerjaan logam pendukung alat konstruksi di Indonesia. Kegiatannya, antara lain membuat prototipe komponen alat berat yang masih diimpor, serta pembinaan industri melalui supervisi dan pelatihan. Sedangkan, proyek ketiga, peningkatan kapasitas pengolahan makanan berbasis singkong. Proyek ini dilaksanakan di Timor Leste.

Senior Vice President of JICA Shinya Ejima menuturkan, sektor industri manufaktur di Indonesia harus terus ditingkatkan ke level yang lebih tinggi lagi melalui kecanggihan dalam teknologi maupun riset sehingga punya daya saing yang lebih baik di pasar global. “Melalui survei ini, kami berdialog dengan pelaku industri terkait dan hasilnya akan difinalisasi pada tahun depan,” kata Ejima.

Gandeng Nagoya

Dalam kesempatan yang berbeda, pada acara Indonesia Investment & Business Forum (IIBF) di Nagoya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, dalam rangka memasuki 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang perlu dirayakan dengan kegiatan kerja sama ekonomi yang positif terutama di sektor industri.

“Nagoya merupakan investor terbesar dari Jepang di Indonesia, kira-kira sudah ada 100 perusahaan di dalam negeri. Apalagi kota ini adalah pusat manufaktur di Jepang. Untuk itu, kami ingin menjalin kerja sama investasi yang panjang dengan para investor Nagoya,” tutur Menperin.

Menurutnya, Jepang selama ini menjadi mitra strategis bagi Indonesia. Transaksi Jepang-Indonesia pada triwulan II-2017 mencapai USD14,8 miliar atau meningkat lima persen dibanding periode yang sama tahun 2016. Sedangkan, di tahun ini, total investasi Jepang di Indonesia mencapai USD17 miliar dengan sektor utamanya adalah industri otomotif, elektronika, serta makanan dan minuman.

Di hadapan ratusan pengusaha Jepang, Menperin menyatakan, Indonesia sebagai salah satu negara G20 yang perekonomiannya mampu tumbuh lima persen dalam empat tahun terakhir, dan diperkirakan meroket di atas lima persen dalam kurun dua sampai tiga tahun ke depan. “Indonesua juga merupakan negara yang mendapatkan akreditasi investment grade dari berbagai lembaga internasiona,” ungkapnya.

Selanjutnya, kekuatan Indonesia lainnya adalah sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara atau menguasai hingga 50 persen dari total negara-negara ASEAN dengan nilai mencapai USD1 triliun dan jumlah penduduk sebanyak 240 juta jiwa. Potensi yang baik ini, menurut Airlangga, sangat bagus untuk dilakukan kerja sama bisnis.

“Nagoya merupakan klaster industri manufaktur besar di Jepang, utamanya untuk sektor otomotif dan komponen. Kami melihat perusahaan besar seperti Toyota dan Mitsubishi telah berkomitmen untuk berkontribusi investasi di Indonesia dalam berbagai industri dan terkait juga kerja sama pembangunan pusat inovasi,” paparnya.

Menperin menegaskan, industri manufaktur bukan hal yang baru di Indonesia, karena merupakan salah satu negara yang kontribusi industrinya terhadap PDB lebih dari 20 persen. Berdasarkan data kontribusi terhadap PDB, Indonesia menduduki peringkat keempat setelah Korea Selatan (29%), Tiongkok (27%), Jerman (23%). Oleh karena itu, Indonesia ditetapkan menjadi Top 15 manufaktur dunia.

“Kalau mengacu data UNIDO, Indonesia masuk peringkat ke-9. Capaian ini juga menunjukkan bahwa Indonesia sudah masuk dalam jajaran negara-negara yang mampu mengembangkan inovasi. Tinggal bagaimana memperdalam dan memperkuat struktur industri yang ada, dan bekerja sama dengan fokus pada unsur teknologi dan masa depan dari dua negara,” jelas Airlangga.

  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional