Seputar Jakarta

Menperin Minta Mitsubishi Tambah Investasi Garmen Hingga Petrokimia

  • Reporter:
  • Jumat, 20 Oktober 2017 | 19:02
  • / 29 Muharram 1439
Menperin Minta Mitsubishi Tambah Investasi Garmen Hingga Petrokimia

Kementeri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong Mitsubishi Corporation agar terus berinvestasi di Indonesia sekaligus meningkatkan kemitraan dengan para pelaku industri lokal. Perusahaan raksasa Jepang tersebut memiliki potensi besar untuk memacu pengembangan daya saing dan produktivitas di berbagai sektor manufaktur dalam negeri.

“Sejumlah anak perusahaan dan afiliasi Mitsubishi Corporation mampu terlibat dalam berbagai kegiatan usaha skala global. Ini menjadi peluang besar kita ke depannya,” kata Menperin seusai bertemu dengan Senior Executive Vice President Mitsubishi Corporation/Regional CEO Asia & Oceania, Eiichi Tanabe di Tokyo, Rabu (18/10) waktu setempat.

Menperin menyampaikan, pihaknya telah meminta kelompok usaha Mitsubishi untuk lebih banyak menanamkan modalnya di sektor garmen. Hal ini guna mendukung upaya Indonesia melakukan revitalisasi industri tekstil, dengan meningkatkan kapasitas produksi serat rayon. “Rayon sebagai basis material baru. Apalagi, Indonesia akan memproduksi rayon dalam jumlah besar yang berbasis forest pulp,” ujarnya.

Bahkan, setelah membentuk joint venture dengan Uniqlo selaku perusahaan pakaian Jepang, Mitsubishi diyakini dapat menjadi mitra yang kuat untuk memperluas pasar ekspor bagi produk tekstil Indonesia. Saat ini, Uniqlo memiliki lebih dari 12 gerai di Jakarta dan kota lainnya. “Selain itu, Indonesia sudah punya satu fasilitas produksi yang memasok ke Uniqlo sehingga ini bisa terintegrasi,” tutur Airlangga.

Menperin mengungkapkan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan sektor yang memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Capaian ini terlihat dari penerimaan devisa negara melalui ekspor TPT sebesar USD11,78 miliar atau 8,2 persen dari total ekspor nasional, sehingga surplus USD4,31 miliar pada tahun 2016.

Selanjutnya, industri TPT berkontribusi sekitar 1,16 persen terhadap PDB nasional dan mencatatkan nilai investasi mencapai Rp7,54 triliun pada tahun 2016. Di samping itu mampu menjadi jaring pengaman sosial karena menyerap tenaga kerja langsung yang cukup banyak sebesar 2,69 juta orang atau 17,3 persen dari total pekerja industri manufaktur di Tanah Air.

Selain di sektor garmen, Menteri Airlangga mendorong pula Mitsubishi gencar berinvestasi di sektor petrokimia. Langkah agresif ini seperti yang dilakukan anak perusahaannya di Indonesia, Asahi Glass melalui PT Asahimas Flat Glass Tbk dalam memperluas pabriknya yang memproduksi soda kostik dan kaca. Apalagi, Kementerian Perindustrian tengah memprioritaskan penanaman modal di industri petrokimia guna mendukung ketersediaan bahan baku bagi sektor manufaktur lainnya di dalam negeri.

Oleh karena itu, Kemenperin telah mengusulkan agar industri petrokimia termasuk produsen kaca bisa mendapatkan harga gas yang kompetitif. “Industri kaca merupakan sektor yang potensial, karena sudah mampu ekspor,” tegas Airlangga. Dengan adanya kelancaran produksi, efek ganda yang dibawa industri akan berjalan baik seperti peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan devisa.

“Sebagai produsen eskalator dan elevator, Mitsubishi juga telah kami dorong untuk memproduksi motor mesinnya di Indonesia,” imbuhnya. Menperin pun berharap, dari pertemuan ini, terjalin kerja sama lanjutan untuk memperkuat dan memperdalam struktur industri di Indonesia sehingga bisa masuk dalam rantai pasok global.

Sementara itu, Tanabe menyatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang penting dan strategis untuk menjadi tujuan investasi Mitsubishi Corporation ke depannya. “Kami melihat, ekonomi Indonesia saat ini sangat baik, karena upaya pemerintah dan kepemimpinan Bapak Presiden Joko Widodo,” ungkapnya.

Tanabe juga menyampaikan, pihaknya ingin ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan kelas menengah di Indonesia. “Kami berminat pula memperluas bisnis di bidang infrastruktur dan otomotif, serta bisnis konsumsi seperti makanan. Apalagi, kami sudah punya mitra usaha dengan Lawson dan Uniqlo, yang gerainya sudah cukup banyak di Indonesia,” tuturnya.

Mitsubishi Corporation selama ini memproduksi dan memasarkan berbagai macam produk industri, di antaranya logam, mesin, bahan kimia, kendaraan, alat-alat berat, pembangkit listrik dan barang konsumsi lainnya melalui jaringan pasar domestik dan luar negeri. Perusahaan ini juga terlibat dalam beragam bisnis dengan berinvestasi di sektor keuangan serta menciptakan model usaha baru di bidang energi dan teknologi baru. Hingga Juni 2017, jumlah anak usaha Mitusbishi sebanyak 835 perusahaan dan afiliasi yang terlibat mencapai 432 perusahaan.

10 prototipe
Di sela kunjungan kerjanya di Jepang, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto juga mengadakan pertemuan dengan CEO Mitsubishi Motors Corporation Osamu Masuko di Tokyo, Selasa (17/10). Dari hasil perbincangan keduanya, salah satu produsen otomotif terbesar di Jepang itu akan memberikan bantuan berupa 10 unit prototipe kendaraan listrik untuk penelitian di Indonesia.

Menperin mengatakan, pemerintah Indonesia sedang mengkaji strategi pengembangan kendaraan listrik yang akan diproduksi oleh industri otomotif di Tanah Air. Langkah ini sebagai salah satu wujud implementasi roadmap yang disusun oleh Kementerian Perindustrian dalam fokus mendorong produksi kendaraan beremisi karbon rendah atau low carbon emission vehicle (LCEV) sesuai dengan tren pasar dunia saat ini yang membutuhkan kendaraan ramah lingkungan.

“Kami mengapresiasi dukungan Mitsubishi yang selama ini turut memacu peningkatan daya saing dan produktivitas industri otomotif di Indonesia, termasuk rencananya memberikan 10 prototipe kendaraan elektrik untuk mendukung riset di dalam negeri,” paparnya.

Untuk itu, menurut Airlangga, Indonesia membutuhkan banyak masukan terkait langkah pengembangan platform kendaraan listrik hingga komponen dan industri pendukungnya. “Kami sedang mendorong penelitian penggunaan electric vehicle, bukan hanya dari segi kendaraan, tetapi juga infrastruktur, charger-nya, stasiun pengisian listrik, availability-nya, dan semuanya,” ujarnya.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) yang turut mendampingi Menperin, mengatakan bahwa Indonesia memiliki ribuan pemasok komponen otomotif dengan skala industri kecil dan menengah (IKM). Potensi ini perlu dimanfaatkan dan dikembangkan agar terintegrasi dengan produsen otomotif skala besar dalam menciptakan produk yang berualitas dan berdaya saing.

Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo Johannes Nangoi menuturkan, perlu kebijakan yang jelas terkait pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Pasalnya, industri otomotif Indonesia masih didominasi oleh kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM). “Industri otomotif di Indonesia 98 persen merupakan pabrikan Jepang. Terkait pengembangan kendaraan listri, kami tidak mau hanya menjadi market. Oleh karena itu, perlu investasi sehingga ke depan Indonesia bisa jadi basis produksi,” jelasnya

Setelah pertemuan tersebut, Menperin dijadwalkan melakukan kunjungan ke pabrik Mitsubishi Motors Okazaki yang berlokasi di Prefektur Aichi, Nagoya, Jepang, pada Rabu (18/10). Pabrik tersebut telah beroperasi sejak 1977. Saat ini, pabrik Mitsubishi Motors Okazaki memproduksi mobil model Outlander PHEV, Outlander, RVR (ASX) Outlander Sport.

Dari sisi kinerja, Mitsubishi Motors membukukan penjualan bersih sebesar 1,9 triliun yen pada tahun 2016. Perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh Nissan Motor Co. Ltd. dan Mitsubishi Corporation ini menjual sebanyak 926.000 unit kendaraan bermotor di lebih dari 160 negara sepanjang tahun lalu.

Selain itu, Mitsubishi Motors memiliki lima fasilitas industri mobil di tiga negara, termasuk Indonesia. Bahkan, perusahaan ini juga punya 10 fasilitas industri dari perusahaan afiliasi dan mitra bisnis di sembilan negara dan wilayah.

  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional