Seputar Jakarta

Kemenperin Bidik Ekspor TPT Capai USD15 Miliar Tahun 2019

  • Reporter:
  • Minggu, 17 September 2017 | 07:29
  • / 25 Djulhijjah 1438
Kemenperin Bidik Ekspor TPT Capai USD15 Miliar Tahun 2019

Kementerian Perindustrian memproyeksikan nilai ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional akan tumbuh pesat dalam dua tahun ke depan. Optimisme ini seiring dengan berbagai program dan insentif yang diberikan pemerintah untuk memacu kinerja sektor unggulan tersebut.

Industri TPT merupakan sektor padat karya berorientasi ekspor. Pada tahun 2019, kami menargetkan ekspornya bisa mencapai USD15 miliar dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 3,11 juta orang,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika menjadi pembicara pada Annual Conference International Textile Manufacturers Federation (ITMF) 2017 di Nusa Dua, Bali, Jumat (15/9).

Menurut Menperin, untuk mencapai sasaran tersebut, dibutuhkan investasi baru dan ekspansi di setiap sektor industri TPT. “Kami memperkirakan pada saat itu akan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 1.638 ribu ton per tahun dengan nilai investasi Rp81,45 triliun dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 424.261 orang,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Airlangga, pemerintah fokus menciptakan iklim investasi yang kondusif dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan yang dapat memudahkan pelaku industri dalam berusaha di Indonesia. Misalnya, memfasilitasi pemberian insentif fiskal berupa tax allowance dan tax holiday.

“Selain itu, guna meningatkan daya saing, Kemenperin tengah menjalankan program pendidikan vokasi industri dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan di lapangan. Kami juga telah memiliki program Diklat 3in1 untuk operator mesin garmen,” paparnya.

Kemudian, industri TPT nasional sedang didorong agar segera memanfaatkan teknologi digital seperti 3D printing, automation, dan internet of things sehingga siap menghadapi era Industry 4.0. Upaya transformasi ini diyakini dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, selain melanjutkan program restrukturisasi mesin dan peralatan.

Menteri Airlangga menambahkan, pemerintah juga berupaya membuat perjanjian kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa supaya memperluas pasar ekspor TPT lokal. “Saat ini dalam proses negosiasi untuk bilateral agreement tersebut, karena bea masuk ekspor produk tekstil Indonesia masih dikenakan 5-20 persen, sedangkan ekspor Vietnam ke Amerika dan Eropa sudah nol persen,” tuturnya.

Lebih lanjut, Kemenperin terus berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk mengatasi impor ilegal produk TPT dalam bentuk borongan. “Kami juga akan perhatikan dan ada tindakan tegas untuk impor baju bekas yang masuk melalui pelabuhan ‘tikus’,” imbuhnya.

Airlangga optimistis, industri TPT nasional mampu berdaya saing global. Pasalnya, sektor andalan ini telah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional. “Khusus untuk industri shoes and apparel sport, kita sudah melewati China. Bahkan. Di Brazil, kita sudah menguasai pasar di sana hingga 80 persen,” ujarnya.

Negara tujuan investasi

Pada kesempatan tersebut, Menperin menyampaikan, Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi bagi para pelaku usaha, baik dari domestik maupun internasional, yang ingin melakukan ekspansi dan menjadikan basis produksi. “Untuk itu, kami memfasilitasi pembangunan kawasan industri, khususnya di luar Jawa,” jelasnya.

Sebanyak 27 kawasan industri yang tengah didorong percepatan pembangunannya oleh pemerintah, sekitar 23 kawasan industri ditetapkan masuk daftar proyek strategis nasional. Saat ini sudah ada delapan kawasan industri yang mulai beroperasi. Sisanya, sembilan kawasan industri masih tahap konstruksi serta 10 kawasan industri sedang dalam penyelesaian perencanaan.

“Kawasan industri yang sedang tahap konstruksi diperkirakan dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun akan beroperasi,” kata Airlangga. Sementara itu, kawasan industri yang dalam tahap perencanaan, diperkirakan satu sampai dua tahun ke depan sudah memasuki tahap konstruksi.

Kawasan industri di luar Jawa yang sudah beroperasi, meliputi Kawasan Industri Palu, Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara, Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan, Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara, dan Kawasan Industri Dumai, Riau.

“Distribusi industri tekstil skala menengah dan besar masih terkonsentrasi di Jawa. Ini merupakan salah satu tugas kami untuk pemerataan populasi industri di luar Jawa sekaligus mewujudkan visi pemerintah menciptakan Indonesia sentris dan menyejahterakan ekonomi masyarakat yang inklusif,” paparnya.

Kemenperin juga memacu penumbuhan wirausaha baru di seluruh pelosok daerah di Tanah Air melalui pengembangan industri kecil dan menengah (IKM). “Daya saing dan perluasan pasar untuk sektor IKM dapat ditingkatkan dengan digitalisasi. Salah satunya pelaksanaan program yang kami inisiasi, yaitu e-Smart IKM yang merupakan platform digital untuk pengembangan IKM,” tutur Airlangga.

Menperin menilai, industri TPT memiliki potensi yang besar untuk tumbuh dan berkembang pada masa depan. Oleh karena itu, berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) pada 2015-2035, sektor ini diprioritaskan dalam pengembangannya agar mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Saat ini, industri TPT yang beroperasi di Indonesia telah terintegrasi dengan klasifikasi dalam tiga area. Pertama, sektor hulu yang didominasi menghasilkan produk fiber. Kedua, sektor antara, perusahaan-perusahaan yang proses produksinya meliputi spinning, knitting, weaving, dyeing, printing dan finishing. Ketiga, sektor hilir berupa pabrik garmen dan produk tekstil lainnya.

Kemenperin memperkirakan ekspor industri TPT akan tumbuh rata-rata 11 persen per tahun. Untuk tahun 2018, dipatok sebesar USD13,5 miliar dan tahun 2017 sebesar USD12,09 miliar. Di sisi tenaga kerja, pada 2018, diharapkan sektor ini menyerap sekitar 2,95 juta orang dan hingga akhir tahun ini sebanyak 2,73 juta orang.

Berdasarkan data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-9 di dunia untuk Manufacturing Value Added. Posisi ini sejajar dengan Brazil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya. Oleh karenanya, Kemenperin terus memacu hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional