Seputar Jakarta

Genjot Produksi, Kemenperin Minta Bea Keluar Biji Kakao Flat 15 Persen

  • Reporter:
  • Selasa, 5 September 2017 | 17:36
  • / 13 Djulhijjah 1438
Genjot Produksi, Kemenperin Minta Bea Keluar Biji Kakao Flat 15 Persen

Kementerian Perindustrian mengusulkan tarif bea keluar untuk biji kakao menjadi flat 15 persen guna memberikan jaminan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan kakao nasional. Saat ini pajak ekspor yang diterapkan terhadap komoditi tersebut bersifat progresif sekitar 0-15 persen tergantung harga biji kakao dunia.

“Kami juga berharap, dengan tarif flat dapat menjaga keseimbangan antara pajak yang dikenakan atas transaksi lokal maupun ekspor. Usulan ini akan kami bahas dengan Kementerian Keuangan,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan pameran dalam rangka memperingati Hari Kakao Indonesia (Cocoa Day) ke-6 di Jakarta, Selasa (5/9).

Menperin meyakini, upaya tersebut mampu memacu produktivitas industri pengolahan kakao nasional. Hal ini sejalan dengan program pemerintah mendorong hilirisasi industri berbasis agro supaya semakin meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. “Produk yang dihasilkan dari industri pengolahan kakao, antara lain cocoa cake, cocoa butter, cocoa liquor dan cocoa powder yang merupakan bahan baku pembuatan produk cokelat,” sebutnya.

Kemenperin mencatat, pada tahun 2016, nilai ekspor produk  cocoa cake sebesar USD155,2 juta, cocoa butter USD697,9 juta, dan cocoa liquor USD89,6 juta. “Sementara itu, nilai ekspor cocoa powder  mengalami kenaikan 31,8 persen dari tahun 2015 sebesar USD124,3 juta menjadi USD163,9 juta pada 2016,” ungkap Airlangga.

Menurutnya, Indonesia berpotensi besar memiliki industri pengolahan kakao yang berdaya saing global, mengingat sebagai produsen biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Saat ini, telah berdiri sebanyak 20 perusahaan pengolahan kakao di dalam negeri dengan kapasitas produksi mencapai 800 ribu ton per tahun.

Untuk mendukung tujuan tersebut, lanjut Airlangga, pihaknya telah memfasilitasi pembentukan unit-unit pengolahan industri kakao yang dapat menumbuhkan wirausaha baru skala kecil dan menengah. Selain itu, pelaksanaan program bantuan mesin dan peralatan pengolahan kakao.

“Bahkan, kami juga telah membangun Pusat Pengembangan Kompetensi Industri Pengolahan Kakao Terpadu di Kabupaten Batang, Propinsi Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan Pemerintah Kabupaten Batang,” paparnya.

Pusat Kompetensi itu diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan di sektor kakao sebagai tempat uji kompetensi sumber daya manusia di bidang produksi kakao, wahana pembelajaran yang berbasis riset dan inovasi, serta mendorong petani kakao untuk dapat meningkatkaan kualitas dan produktivitasnya.

Berperan penting

Airlangga menegaskan, industri pengolahan kakao mempunyai peranan penting dalam peningkatan perekonomian nasional. Dalam hal ini, pemerintah telah menetapkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035, yang menyebutkan bahwa industri pengolahan kakao termasuk salah satu sektor prioritas yang harus dikembangkan.

“Untuk itu, pengembangan hilirisasi industri pengolahan kakao diarahkan untuk menghasilkan bubuk cokelat atau kakao, lemak cokelat atau kakao, makanan dan minuman dari cokelat, suplemen dan pangan fungsional berbasis kakao, serta untuk produk kosmetik dan farmasi,” tuturnya.

Dalam upaya mengenalkan beragam produk unggulan kakao dalam negeri tersebut, Kemenperin giat memfasilitasi melalui kegiatan pameran baik tingkat domestik maupun internasional. Ajang ini juga sekaligus mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih meningkatkan konsumsi cokelat.

Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto menyampaikan, sejak tahun 2012 Kemenperin aktif melakukan kegiatan pameran pada Peringatan Hari Kakao Indonesia. “Tahun ini, kami laksanakan di Plasa Pameran Industri selama empat hari, mulai tanggal 5-8 September 2017 yang dibuka untuk umum pukul 08.00-16.00 WIB,” jelasnya.

Acara tersebut terselanggara berkat kerja sama lintas sektoral, antara Kementerian Perindustrian dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan serta asosiasi dan pelaku industri.

“Peringatan Hari Kakao Indonesia sudah menjadi tradisi bagi semua stakeholder kakao dan cokelat yang diselenggarakan rutin setiap tahun,” ujarnya.

Pameran tahun ini diikuti sebanyak 34 peserta meliputi perusahaan besar, industri kecil dan menengah, lembaga pendidikan dan petani kakao. Mereka berasal dari Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, D.I. Yogyakarta, Bogor, Bandung, dan Jakarta.

Produk-produk yang ditampilkan, antara lain makanan dan minuman berbasis kakao olahan seperti susu permen, cokelat, kue, biskuit, dan es krim. Dalam pelaksanaan Pameran Hari Kakao Indonesia ke-6 ini, dipajang pula lukisan batik cokelat yang dibuat oleh Larasati Suliantoro Sulaiman dengan judul Satrio Manah Cokelat yang melambangkan semangat, perjuangan, dan kesejahteraan.

  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional