Seputar Jakarta

Berprestasi dan Kompeten, Lulusan SMK Kemenperin Cepat Terserap di Industri

  • Reporter:
  • Sabtu, 26 Agustus 2017 | 15:42
  • / 3 Djulhijjah 1438
Berprestasi dan Kompeten, Lulusan SMK Kemenperin Cepat Terserap di Industri

Unit-unit pendidikan yang dibina oleh Kementerian Perindustrian, seperti Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Politeknik telah terbukti mampu mencetak para lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja saat ini. Capaian tersebut merupakan keberhasilan dalam penerapan sistem pendidikan vokasi yang berbasis kompetensi serta link and match dengan industri.

“Lulusan SMK dan Politeknik di lingkungan Kemenperin seluruhnya terserap di industri dalam waktu kurang dari enam bulan. Bahkan, salah satu contoh best practice-nya adalah lulusan SMK – SMAK dan SMTI Padang yang 85 persen telah terserap pada saat wisuda,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Wisuda di SMK – Sekolah Menengah Analis Kimia (SMAK) dan Sekolah Menengah Teknologi Industri (SMTI) Padang, Sumatera Barat, Sabtu (26/8).

Menperin memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada kedua SMK yang telah menelurkan sebanyak 342 lulusan (terdiri dari 168 orang dari SMTI Padang dan 174 orang dari SMAK Padang) pada tahun ini, di mana 289 orang sudah diterima bekerja atau melanjutkan pendidikan lebih tinggi. “Kami berharap lulusan yang sedang dalam tahap rekrutmen dapat segera bekerja di sektor industri,” ujarnya.

Mengenai kualitas pendidikan, SMK – SMAK dan SMTI Padang mencatatkan prestasi yang cukup gemilang, di mana SMAK Padang menduduki posisi pertama tingkat SMK dengan nilai ujian (UN) nasional tertinggi di Provinsi Sumatera Barat, dan telah dicapai selama lima kali berturu-turut. Sedangkan, SMTI Padang menempati posisi keempat SMK dengan nilai UN nasional tertinggi di Provinsi Sumatera Barat dan peringkat kedua tertinggi di Kota Padang.

Kemudian, dari 342 lulusan yang diwisuda, yang telah mendapatkan sertifikasi kompetensi sebanyak 303 orang. Bahkan, untuk mewujudkan sekolah bertaraf internasional, SMK – SMAK dan SMTI Padang telah bekerja sama dengan Australia dan Belanda dalam melakukan harmonisasi kurikulum yang mengacu pada standar internasional.

Airlangga menyebutkan, seluruh unit pendidikan Kemenperin memiliki spesialisasi bidang industri tertentu sehingga fokus dalam pengembangan manufaktur nasional agar berdaya saing global. Selain itu, didukung dengan fasilitas memadai seperti ruang workshop, laboratorium, dan teaching factory yang sesuai dengan penggunaan teknologi di industri saat ini. “Kami juga mempunyai Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) untuk penyelenggaraan sertifikasi kompetensi,” imbuhnya.

Langkah strategis Kemenperin tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. “Pasalnya, peralatan praktik yang dimiliki rata-rata SMK di Indonesia tertinggal dua generasi,” ungkap Airlangga. Untuk itu, Kemenperin pun mendorong agar industri dapat membina sebanyak lima SMK di wilayahnya, dan setiap SMK bisa dibina lebih dari satu industri.

Upaya lain yang tengah gencar dilakukan Kemenperin dalam mentransformasi pendidikan adalah meluncurkan program pendidikan vokasi yang berkonsep link and match antara industri dengan SMK. Program ini ditargetkan sampai tahun 2019 dapat melibatkan sebanyak 355 perusahaan industri yang akan membina 1.775 SMK.

“Dengan setiap perusahaan sekurang-kurangnya membina lima SMK, sehingga diharapkan pada tahun 2019 akan dihasilkan 845.000 lulusan SMK yang kompeten dan tersertifikasi sesuai dengan kebutuhan industri,” paparnya.

Sejak Februari 2017, dari tiga tahap peluncuran program vokasi link and match tersebut di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, serta Jawa Barat, Kemenperin telah menggandeng sebanyak 1.035 SMK dan 307 industri. Dari jumlah keterlibatan industri dan SMK tersebut, menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sangat tinggi sehingga program ini akan dilanjutkan di setiap provinsi di Indonesia.

“Kami akan meluncurkan lagi untuk wilayah bagian utara Sumatera yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau pada bulan September 2017 di Medan. Untuk itu, kami mengharapkan dukungan dari semua pihak,” ujar Airlangga.

Penentu pertumbuhan industri
Pada kesempatan yang sama, Sekjen Kemenperin Haris Munandar mengutarakan, pertumbuhan industri ditentukan oleh tiga faktor penting, yaitu investasi, teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam hal ini, ketersediaan SDM yang kompeten akan mendorong peningkatan produktivitas dan menjadikan industri lebih berdaya saing.

“Pendidikan memegang peranan penting dalam pembentukan SDM guna menghasilkan tenaga kerja industri yang kompeten sesuai dengan kebutuhan dunia industri,” tuturnya. Salah satunya melalui pendidikan pendidikan vokasi, yang menjadi solusi dalam membentuk dan menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus sesuai dengan kebutuhan bidang industrinya.

“Hal ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden Joko Widodo, bahwa prioritas pembangunan nasional saat ini adalah pembangunan infrastruktur dan penguatan SDM yang dilakukan melalui penguatan pendidikan vokasi industri,” papar Haris.

Menurutnya, pemerintah telah menetapkan arah pengembangan pendidikan vokasi yang mengacu pada konsep pendidikan dual system dari Jerman, yaitu pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran di kampus dengan praktek kerja di industri.

“Dan, dalam rapat terbatas bidang vokasi dengan para Menteri Kabinet Kerja, Bapak Presiden Joko Widodo telah mengarahkan kepada Kemenperin agar bisa menjadi leading ministry untuk pengembangan pendidikan vokasi berbasis kompetensi yang link and match dengan industri secara nasional,” tegas Haris.

Hingga saat ini, Kemenperin memiliki sembilan SMK, sembilan Politeknik, dan satu Akademi Komunitas yang telah menjadi rujukan bagi pengembangan pendidikan vokasi karena telah berhasil membangun sistem pendidikan yang benar-benar berbasis kompetensi serta link and match dengan dunia industri.

Selain mengembangkan program link and match SMK dengan industri untuk penyediaan tenaga kerja terampil, Kemenperin juga membangun Politeknik atau Akademi Komunitas Industri di kawasan industri dan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI). Upaya ini bertujuan untuk mendukung investasi industri melalui penyediaan SDM lokal yang kompeten serta untuk memberdayakan masyarakat sekitar.

Saat ini telah berdiri Akademi Komunitas Industri Tekstil di Solo dan Politeknik Industri Logam di Morowali. Selanjutnya ditargetkan pembangunan delapan Politeknik atau Akademi Komunitas, yaitu Politeknik Industri Furniture di Kendal, Akademi Komunitas Industri Logam di Bantaeng, Politeknik Industri Kelapa Sawit di Dumai, Politeknik Industri Baja di Batulicin, Akademi Komunitas Industri Kelapa Sawit di Sei Mangke, serta Politeknik Industri Petrokimia di Banten, Gresik dan Teluk Bintuni.

Untuk penyediaan tenaga kerja terampil jangka pendek, Kemenperin telah mengembangkan pelatihan dengan sistem three in one (3 in 1), yaitu pelatihan, sertifikasi kompetensi, dan penempatan kerja. Jenis pelatihan yang diselenggarakan bervariasi sesuai dengan kebutuhan industri, salah satunya yang dikembangkan di Sumatera Barat adalah untuk bordir dan fesyen, yaitu sesuai dengan kompetensi inti di daerah Sumatera Barat.

  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional