Seputar Jakarta

Ini Teknik Antisipatif Menghadapi Radikalisme

  • Reporter:
  • Sabtu, 24 Juni 2017 | 06:32
  • / 29 Ramadhan 1438
Ini Teknik Antisipatif Menghadapi Radikalisme
Seminar Deradikalisasi di aula PCNU Banyuwangi, Jumat (23/6).

BANYUWANGI, SeputarJakarta.com – Radikalisme berbalut agama menjadi ancaman cukup serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Memutus sedini mungkin ancaman radikalisme kepada generasi muda menjadi pekerjaan rumah semua elemen bangsa.

“Gerakan ISIS yang mengkampanyekan kekerasan dengan dalih agama saat ini, tidak hanya terjadi di Timur Tengah. Bahkan sudah menjalar ke Asia Tenggara. Tidak menutup kemungkinan juga akan mengarah ke Indonesia,” ungkap Pengurus PCNU Banyuwangi Haikal Kafili saat membuka seminar deradikalisasi di aula PCNU Banyuwangi, Jumat (23/6).

Ancaman radikalisasi harus diimbangi, salah satunya, dengan penyampaian konten dakwah yang moderat. Dakwah tersebut adalah dengan mengacu pada kaidah keberagamaan yang benar. “Kaidah beragama dalam Islam itu harus berpacu pada Al-Qur’an, Hadist, Ijma dan Qiyas yang harus dipahami dengan ilmu para ulama aswadul adzam (mayoritas),” terang salah seorang pembicara, ketua Aswaja NU Center Banyuwangi KH. Abdillah As’ad, LC.

Maraknya faham radikal yang menjangkiti generasi muda juga menjadi keprihatinan para peserta seminar yang diadakan oleh PAC IPNU IPPNU Banyuwangi bersama Lentera Indonesia Institute tersebut. Kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi lahan subur persemaian bibit-bibit radikalisme.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, menurut Yusuf Soeharto perlu memperhatikan lima hal dalam menyikapi nilai-nilai keagamaan. “Pertama, moderasi (pertengahan) dalam menggunakan dalil antara naqli (ayat-ayat) dan aqli (akal pikiran),” ungkap pegiat deradikalisasi Jawa Timur tersebut.

Kedua, lanjut Yusuf, adalah dengan meningkatkan toleransi pada hal yang furuiyah (cabang). “Jangan sampai hanya karena perbedaan bacaan sholat lantas menjadikan satu sama lain saling bermusuhan,” paparnya.

Hal ketiga dalam menghalau radikalisasi berbalut agama adalah dengan beragama secara porposional. “Berlebihan itu tidak disukai Allah, termasuk juga dalam beragama,” terang salah satu tim penulis buku Kajian Aswaja itu.
Radikalisasi agama juga harus dilawan dengan pemahaman agama dengan cara mengikuti imam madzab. “Dengan bermadzab ini, pemahaman keagamaan akan lebih aman karena telah diakui secara mayoritas dan secara historis,” tegasnya.

Sedangkan hal kelima yang harus dilakukan untuk mencegah radikalisasi adalah dengan berhati-hati memvonis kafir dan sesat pada pihak yang berbeda. “Mengkafirkan kelompok yang berbeda akan menjadi pintu masuk radikalisasi agama,” pungkasnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!
  • ©2017 Seputar Jakarta

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional